Tangkuban Perahu

HoLaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

Seperti judul di atas, tulisan kali ini akan membahas sedikit tentang Tangkuban Perahu,
tapi lebih tepatnya si aku akan membahas tentang acara jalan-jalan kami (5 pemuda-pemudi harapan pemudi-pemuda), dan lebih khususnya lagi tentang perjalanan si aku sendiri🙂

Hari Sabtu (16 Januari 2010) yang lalu,
selaku mahasiswa tingkat 4 yang sedang liburan semester,
kami memutuskan untuk pergi jalan-jalan dengan modal yang sangat minim.
Bermula dari kumpul jam 06.00 WIB di Terminal Dago, Bandung, Jawa Barat, Indonesia;
Kami memutuskan untuk pergi ke Tamah Hutan Rakyat (Tahura Dago),
kemudian Maribaya,
lalu Pasar Lembang,
dan puncaknya Tangkuban Perahu.

Untuk rincian perjalan kami,
mungkin akan terlalu men’jamu’kan bila diceritakan secara rinci,
tapi untuk biayan perjalanan pribadi akan si aku jelaskan secara rinci:


Keterangan :
Semua biaya di atas adalah sesuai dengan pengeluaran penulis & merupakan hasil tawar-menawar yang mengharukan. Saya pribadi sampai minjem do-it temen senilai Rp 100.ooo,- (kasiannn yaaaa)
Apabila sodara-sodara bisa lebih semangat & tarik urat, mungkin biayanya bisa lebih ditekan.
Namun kemungkinan sodara-sodara punya budget yang jauh lebih besar dari kita-kita…
Jadi…. silakan mencoba untuk memastikanya😉

Beberapa hal baru yang saya tahu dari pengalaman jalan-jalan ini:

Menurut saya, MOTO dari jalan-jalan adalah : dimana ada niat jalan-jalan, pasti ada jalan (walaupun salah satu jalannya bisa jadi “ngutang” <tidak pantas ditiru, hehe>). Buktinya meski gak ada mobil pribadi temen yang bisa ditunggangi & gak ada temen yang mau jadi penyandang dana cuma-cuma, kami bisa tetep nyampe di puncak Tangkuban Perahu😉

Di Maribaya ternyata masih banyak gerombolan MONYET liar, tapi mungkin banyak pengunjung yang tidak sadar akan keberadaan mereka, kami saja baru sadar waktu duduk istirahat di sebuah pondokan (itu pun karena kami memilih jalan yang bebas PUNGLI). Gerombolan monyet liar ini sepertinya hidup dari memakan bunga-bunga di pohon yang ada. Tenang saja, monyet-monyet ini relatif tidak ganas, karena mereka memang tidak biasa hidup dimanjakan seperti di daerah-daerah wisata yang memang menjadikan monyet-monyet sebagai objek utama wahana rekreasi mereka. Menurut pengamatan saya monyet-monyet ini bahkan tidak aware akan kehadiran kami (atau mungkin memang mereka mengira kami bagian dari mereka).

Seperti si aku tulis di atas, di daerah wisata setiap orang yang kita tanya, kemungkinan akan berusaha mencari keuntungan dari kita yang notabene disebut “wisatawan”. Misalnya:

kami: Bu, kalau mau ke Lembang lewat mana ya?
Ibu warung 1: bla bla bla, mending makan dulu di sini neng….
#
kami: Bu, angkot Lembang lewat sini gak ya?
Ibu warung 2: Bakso enak neng.. Angkot lewatnya lama, mending makan dulu….
#
kami: Pak, keluar lewat mana ya?
Bapak2 gak jelas : Lewat sini deket, tapi harus bayar (bisa ditawar). Kalau lewat sana jauh.
#
kami: Pak, angkot ke Lembang lewat mana ya?
Bapak Angkot : Susah naik angkot umum, Mending charter angkot saya 200.000 saja (buseeettt!!! padahal akhirnya kami bisa menyewa angkot seharga Rp73.000, makasih deh Pak!!)

Kalo pengen pemandangan Tangkuban Perahu yang full face, mending jangan pilih Musim Hujan. Dingiiiiinya!!! Ajigileeebusetdahhhh!!!!! Semua pemandangan hampir tertutup kabut. Rasanya kulit benar-benar seperti menyatu dengan awan!!!! Memang sensasinya juga seperti di film Twilight sih (lebay), tapi sayang…. karena kita tidak bisa turun ke kawah (meskipun di kawah palingan kita cuma bisa foto-foto & merebus telor)


jejak dimulai….
.
#
.

mau masuk tahura? foto duluuuuu
.
#
.

“duo macan”
.
#
.

jalannya jauhhhhh ternyata!! santay dulu…
.
#
.

ayo tebak dimana monyetnya!!!

.
#
.

tangkuban perahunya lagi superrr dingiiiinnn!!!
.
#
.

nikmat benerrrr!!!
.
#
.

ini diaaa kawahnya!!
.
#
.

bergaya dulu laaahhh😉

3 Komentar (+add yours?)

  1. Nova Imoet
    Jan 17, 2010 @ 15:18:49

    aku udah beberapa kali ke tangkuban perahu,
    yang paling seru waktu anginnya kuenceng…

    Balas

    • riarajagukguk
      Jan 18, 2010 @ 06:05:24

      stuju nov….
      pas anginnya kuenceng emang enak tuenan….
      tapi kalo pas lagi ketutup kabut semua?
      huiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii…. kagak bisa ngapa2 ke kawah😀

      Balas

  2. endah reni
    Jan 20, 2010 @ 08:42:04

    kapan lagi kita kemana ya???
    pertanyaan apa ini,kok aneh ya,haaaaaaaaaaa

    maksudnya kapan kita jalan-jalan lagi,
    kalo ada niat jalan-jalan,pasti ada jalan,

    walaupun akhirnya menguras uang di kantong
    tapi seruuuuuuuu,mumpung masih muda,wkwkwkwk

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: