Kamu medioker?

mediocare

Hari ini sempet ngobrol sama orang yang jauh lebih pinter dari si aku di bidang yang sama. Lagi-lagi bikin jiper alias minder sama minimnya pengetahuan dan kemampuan pribadi.

Jadi inget kata-kata seorang sohib yang pernah bilang gini  “Ceu, kita nih kan sebenernya mediocre ya, rejeki banget lha bisa ada di posisi sekarang!”

Nggak ada penjelasan lain yang bisa si aku pikirin selain “Tuhan itu Maha baik, yang mengatur semua pada tempatnya.”

Inget juga dulu sang mama pernah agak ribut sama seorang paman gegara dibilangin si aku masuk kuliah karna hoki, ha ha.

Anyway, nggak percaya sih sama yang namanya beruntung-beruntung, tapi jalan manusia emang udah diatur semuanya sama yang Empunya Segala. Bukan karna siapa yang lebih jago, siapa yang lebih keren, atau pun siapa yang lebih pantas.

Dengan kemampuan akal kita yang terbatas, pasti selalu aja ada orang yang terlihat lebih oke atau pun kurang oke dibanding kita. But hey! Who we are to judge? Mendingan belajar buat lebih bersyukur dan nggak terus membanding-bandingkan diri. Talk to myself. 

Mau kayak gimana pun kondisi kita, di titik ini si aku mikir, pokoknya berusaha yang terbaik aja!

“Do our best, God take cares of the rest!”

Semangatt pagiiiiiiiiiiii! 🙂

 

 

 

Iklan

I like you that much!

Si aku nggak tau kenapa tiba-tiba pengen nulis ini.

Mungkin suntuk. Mungkin rindu. Mungkin.

I used to say “I like you that much!” (yang ntah apa artinya)

Well, berlanjut dari posting  sebelumnya have-no-will-to-hate-anyone, Mr. Aii akhirnya bener-bener pindah ke San Diego. Surprisingly, di hari terakhir kita ketemu sebelum dia pergi, si aku nggak nangis-nangis lagi. Waktu perpisahan, cuma bisa bilang “I’ll see you soon.”

Waktu dia berangkat, si aku kirim satu pesan singkat yang rasanya lengkap:

Good morning! Have a rock and roll trip! Wish you’ll enjoy San Diego a lot.. And I hope you always find a reason to smile 🙂 Whatever you decide to do, make sure it makes you happy. I’m glad I met you. God bless you! ~me

I mean it!

Sama kayak satu text panjang yang si aku kirim seminggu sebelumnya:

I started this day thinking about you a lot. I had a mango for breakfast. When I left my clothes on the machine, I wanted to buy a detergent like yours. Apparently, opened the window in summer was Ok. I saw some big trucks on the road, you’ll moving back to California soon. Spanish songs on the radio are more beautiful to hear, although I have no idea what they were talking about. And hey, I’ve danced! 💃🏻I came to the office and greeted people like you taught. Sadly the lady I told you (whom I really want to greet) wasn’t at her desk anymore, I didn’t have a chance to introduce myself (and I always smile when I remember our “acquainted practice” in front of your apartment). 🤣 I can imagine your face, your voice, and also the feeling when I was with you. What is this? Am I super smart? Or simply I like you that much? 😂 However, pardon my selfishness, I hope you think about me in your day as well. 😝 Too long! Ha ha ha ha. Ok ok. I’ll start the day for real. Thanks.

Walaupun dia bilang kita bakal ketemu lagi secepatnya, tapi dia nggak pernah ngehubungin lagi setelah ngabarin kalau dia udah on the way to San Diego.

Mungkin dia sibuk. Mungkin dia nahan diri. Atau mungkin sesederhana dia emang nggak ngerasa harus ngehubungin si aku lagi.

Mungkin childish, tapi si aku mutusin untuk ngehapus semua kontak Mr. Aii.

I need to give some respects to myself!

Satu cup coffee late ukuran grande – cukup menemani si aku yang lagi syahdu.

I’m fine! 

ILYTM

 

Have no will to hate anyone :)

Have faith in your journey. Everything had to happen exactly as it did to get you where you’re going next. (anonymous)

okay

Mindah-mindahin foto dari memory hp ke komputer, si aku nggak sengaja nemu foto ini. Sekitar awal May 2017, udah setahun lewat yak 🙂

Hal pertama yang si aku cari disitu adalah muka orang yang dulu selalu bikin muak, ha ha ha. Screenshoot bentar: oh gak ada. Eh pas dilihat-lihat lagi, ternyata ada! Dan si aku bahkan gak notice sama sekali. Sambil baca caption di foto, si aku pun sadar: “I have no will to hate anyone, anymore.”

Apa yang udah lewat, ya udah aja. Mau apa lagi?

Berlaku juga buat kondisi si aku sekarang. Eaaa. Curhat lagi. ho ho.

Di posting yang lalu “broken in the air”, si aku cerita tentang abang ketemu gede yang sweet bangettt. Follow up dari cerita itu, kita masih sering nge-date setelahnya. Si aku yang alay selalu ngebahas “kalau kamu suka sama aku, kenapa kita nggak bisa pacaran?” dan si dia yang diplomatis selalu ngeles “Dalam hidup ada momen-momen indah yang baiknya emang stay disitu aja, kalau dipaksain nggak akan indah lagi lanjutannya.” Erghhhhh! Ngeselinnnnn! Ngenes rasanya, berasa dimanfaatin doang. Diplomatis. Nggak suka mah nggak suka aja, sebel ngerasa dikasihanin doang.

Minggu depan Mr. Aii jadi pindah ke California. Dan si aku masih setia di Arizona, belum tahu sampe kapan. Kalau dipikir-pikir, andai kan doi mau “in relationship” sama si aku (obsesi belum pernah berstatus pacar, kwkw), jarak kami kan nggak jauh-jauh amat, cuma sekitar 5 jam nyetir mobil, not that bad buat ukuran perjalanan di Amerika.

Tapi sekarang, sambil mantengin foto jadul, si aku jadi sedikit kesadar. I need to continue my journey. Give some credits for myself: he was there, it was real, and it was over. Paling gampang emang cerita kalau masalahnya udah beres. Tapi si aku seneng karena bisa cerita kayak gini bahkan disaat semuanya belum bener-bener clear. Paling nggak, pikiran si aku sendiri yang udah sedikit lebih jelas.

Kalo lagi kasmaran, kita emang suka bego.

*Suka bego = tahu itu salah, tapi menikmati setiap momennya dengan bikin sejuta dua alasan yang terdengar manis biar nggak keliatan banget salahnya.

Kali ini si aku mau belajar sedikit lebih dewasa.

*Dewasa = walaupun pikiran bisa mengarahkan ke banyak cara untuk mendapatkan apa yang diinginkan, tapi memilih untuk melakukan apa yang benar.

Nggak nyalahin kalau ada pasangan yang beda keyakinan tapi memilih bareng terus.  Nggak nyalahin kalau ada pasangan yang beda etnis, budaya, dan bahasa tapi bisa bersatu. Nggak nyalahin kalau ada pasangan yang harus berkorban banyak hal kayak pekerjaan, hobi, dan kebiasaan untuk bisa bersama. Mereka jagoan. Pasti ada banyak harga yang harus dibayar. Mungkin apa yang si aku lihat selama ini cuma indah-indahnya doang. Kalau si aku yang di posisi itu, mungkin nggak bisa, atau belum bisa…. 🙂

Well, tiap-tiap orang pasti ada circumstance-nya masing-masing lha yak dalam hidup.

Paling nggak si aku nggak mau selalu nyalahin siapa-siapa lagi.

Talk to myself. Everything happens for a reason. Even the reason was you were stupid and made bad decisions, at least you could learn from the experience.

Enjoy! 😉